Kado Ulang Tahun untuk Rakyat: Kisah Perahu Layar dan Filosofi Kepala Ikan

News7 views

GLOBAL SULTRA.COM.Bagi Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka (ASR), kekuasaan bukanlah tentang fasilitas mewah atau tumpukan materi. Jauh sebelum ia memegang tongkat komando sebagai Panglima Kodam XIV Hasanuddin hingga kini menjadi orang nomor satu di Sultra, ada sebuah janji batin yang tertanam sejak ia masih belia. Sebuah janji yang bermula dari tiupan angin di atas perahu layar di Pulau Wawonii.

Kisah ini dimulai pada tahun 1965. ASR kecil yang baru berusia dua tahun ikut diboyong sang ayah, Andi Baso Syam Daud—seorang tentara berpangkat letnan satu—yang ditugaskan ke Sulawesi Tenggara. Garis tangan membawa keluarga ini menetap di Pulau Wawonii selama 3,5 tahun, setelah sang ayah yang sudah berpangkat Kapten ditunjuk oleh Gubernur Eddy Sabara menjadi camat di sana.

“Kamu bertugas di Wawonii sampai saya datang ke sana Molulo,” demikian instruksi Gubernur kala itu.

Di pulau itulah, ASR menyaksikan ketulusan rakyat yang paling murni. Saban kali sang ayah hendak menyeberang ke Kendari, warga Wawonii dengan sukarela menyiapkan perahu. Tanpa mesin tempel, mereka hanya mengandalkan kekuatan angin. Jika angin enggan bertiup, perjalanan bisa memakan waktu berhari-hari.

Baca Juga:  Disebut - Sebut Terima Kucuran Dana Puluhan Juta Rupiah Tiap Bulan Dari PT. Win, Ini Penjelasan Kapolres Konsel

Namun, warga tak pernah meminta bayaran. Sebaliknya, mereka justru menjamu keluarga sang Camat dengan makanan saat tiba di tujuan.

“Bapak saya meninggal, belum sempat membalas kebaikan mereka,” kenang ASR dengan nada lirih. Kenangan tentang warga yang memberi meski mereka sendiri tak punya apa-apa itulah yang membentuk karakter dermawannya hingga kini.

Mengikuti jejak sang ayah, ASR menempuh karier militer melalui AKABRI (sekarang Akmil). Ia lulus tahun 1987. Kariernya cemerlang hingga menjabat sebagai Panglima Kodam XIV Hasanuddin. Di kalangan prajurit, ia dikenal dengan prinsip hidup yang sederhana, “bersedekah adalah kebahagiaan saya.”

Kini, sebagai Gubernur, prinsip itu ia transformasikan ke dalam tata kelola pemerintahan. Di tengah situasi fiskal negara yang sulit dan pemangkasan anggaran, ASR mengambil langkah berani: ia tidak menerima fasilitas apapun dari pemerintah. Gaji, tunjangan, hingga hak-hak materiil lainnya yang melekat pada dirinya selaku kepala daerah, ia lepaskan.

Ia bahkan mengikhlaskan milik pribadinya untuk menutupi celah keterbatasan fiskal demi memastikan pembangunan tetap berjalan. Ia sadar betul bahwa masyarakat tidak bisa menunggu.

Langkah ini bukan untuk gagah-gagahan atau sekadar mencari simpati populis. ASR memegang teguh filosofi “ikan busuk dimulai dari kepalanya.”

Baca Juga:  Kunjungan Danpuspomal ke Divpropam Polri, Pererat Sinergi dan Kebersamaan

“Jika kepala sudah busuk atau rusak, maka bagian yang lainnya juga akan ikut rusak,” tegasnya.

Dengan menolak fasilitas negara, ia memberi pesan kuat kepada seluruh jajarannya: jika gubernurnya tidak “macam-macam” dengan uang negara, maka bawahannya pun tak punya alasan untuk menyimpang. Integritas. Itu pesan besarnya.

Di awal pemerintahannya ini, ASR menyadari satu hal. Untuk bisa mewujudkan cita-citanya membangun Sultra, tidak hanya bisa mengandalkan anggaran semata, tetapi juga strategi yang matang. Anggaran besar sekalipun tanpa tata kelola pemerintahan yang bersih, justru akan menimbulkan inefisiensi.

Potensi-potensi daerah dimaksimalkan. Ia lantas menemukan setidaknya 800 aset milik pemprov yang bermasalah. Dengan berbagai keadaannya. Dikuasai orang. Dokumennya entah kemana. Hingga arsip yang tidak tertata.

ASR mulai membenahinya. Aset adalah modal dasar pembangunan. Jika aset-aset ini kembali dikuasai pemprov sepenuhnya, tentu dapat mengurangi ketergantungan pemda yang semata mengandalkan transfer dana pemerintah pusat.

Penuntasan aset ini dipetakan berdasarkan skala prioritasnya. Berangkat dari status “clean and clear”. Aset-aset dengan kepemilikan dan penguasaan dokumen yang jelas menjadi prioritas untuk dibenahi.

Baca Juga:  Pengurusan SKCK Di polres Konawe, Hari Libur Tetap Memberi Pelayanan Sabtu dan Minggu

ASR juga menyadari satu hal. Potensi tambang yang menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Sultra, suatu saat akan habis. Sumber daya manusia harus disiapkan dengan baik.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi harus diakselerasi dengan konektifitas. Pembangunan infrastruktur menjadi harga mati. Dan untuk menjaga kelangsungan hidup, pangan harus terjamin. Tersedia dalam jumlah yang cukup, terjangkau harganya, dan aman untuk dikonsumsi. ASR memutuskan empat prioritas utamanya: pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pangan berbasis agromaritim.

Kini, di tengah perjuangan mewujudkan empat pilar prioritas, Andi Sumangerukka merayakan hari kelahirannya yang jatuh tepat pada hari ini, 11 Maret.

Di usianya yang kian matang, ia akan terus membawa semangat pengabdian yang diwarisinya dari ketulusan warga Wawonii dan kedisiplinan sang ayah. Doa-doa terbaik untuk kesehatan dan kebahagiaan senantiasa mengalir bagi sosok yang memilih jalan sunyi tanpa fasilitas negara demi menjaga “kepala ikan” tetap bersih.

Semoga momentum ulang tahun ini menjadi bahan bakar semangat bagi ASR untuk menuntaskan janji batinnya: membalas kebaikan rakyat dengan pembangunan yang merata dan pemerintahan yang bersih hingga akhir masa jabatannya.( Redaksi )

 

.

Komentar