Dewan  Sara Wuna Laksanakan Serangkaian Prosesi Sakral Mengukuhkan PYM LA ODE RIAGO, S.H. Dengan Gelar SANGIA KOBENTENO

News52 views

GLOBAL SULTRA.COM.KENDARI, – 23 Juli 2026 – Menanggapi berbagai pemberitaan yang mempertanyakan keabsahan posisi pemimpin Kerajaan Muna, Drs. Nazaruddin Saga, M.Si. selaku Bhonto Bhalano sekaligus perwakilan Dewan Sara Wuna secara resmi menegaskan bahwa proses pengukuhan telah berjalan sepenuhnya sesuai tatanan adat yang diwariskan turun‑temurun.

Sejak Kerajaan Muna berdiri berabad‑abad silam, pengukuhan seorang pemimpin bukan sekadar serah terima jabatan atau pengumuman di atas kertas. Bagi masyarakat tanah Muna, ini adalah peristiwa sakral yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan; perjanjian antara pemimpin dengan seluruh tanah air, serta amanah langsung dari leluhur.

Dahulu kala, setiap kali akan dikukuhkan seorang raja baru, rangkaian prosesi ini dilaksanakan dengan sangat hati‑hati, tak boleh kurang satu tahap pun, tak boleh berubah satu aturan pun. Dimulai dari masa pengasingan dan penyucian diri agar hati bersih dari kepentingan pribadi, dilanjutkan penyatuan langsung dengan tanah kelahiran nenek moyang, hingga puncaknya pengambilan sumpah setia di tempat yang paling suci dan bersejarah, Kontu Harimau.

Baca Juga:  Kapolres Konut Serahkan Bansos Bagi Warga Lansia, Berikan Manfaat Sambut Keberkahan Ramadhan

Berabad‑abad kemudian, di tengah zaman yang terus berubah, tata cara suci itu tidak pernah ditinggalkan, tidak pernah diganti, dan tetap dijalankan utuh persis seperti yang diajarkan oleh leluhur. Pada tahun 2024, Dewan Sara Wuna selaku lembaga tertinggi pemegang kewenangan adat Kerajaan Muna telah menyelesaikan seluruh rangkaian prosesi sakral tersebut, menetapkan dan mengukuhkan YM, La Ode Riago, S.H. dengan gelar kehormatan adat Sangia Kobenteno.

TAHAP 1: PROSESI KAGHOMBO (PINGIT)

Seluruh rangkaian dimulai dengan tahap persiapan sakral Kaghombo atau prosesi pingit yang dilaksanakan penuh selama satu malam pada tanggal 2 Juli 2024 di Kotano Wuna. Sama persis seperti yang dilakukan oleh raja‑raja terdahulu, calon pemimpin menjalani masa pengasingan, pembersihan diri, serta penyucian hati dan batin. Tujuannya adalah agar saat memikul amanah besar memimpin Kerajaan Muna, hatinya sudah bersih, tujuannya lurus, dan siap mengutamakan kepentingan rakyat di atas segalanya.

TAHAP 2: PROSESI KATANDA WITE

Baca Juga:  Antisipasi Kelangkaan BBM Selama Perayaan Nataru, Pos Pam Ops Lilin 2025 Gelar Patroli SPBU Belalo

Selanjutnya dilaksanakan prosesi Katanda Wite, yaitu pengambilan tanah secara khusus dari wilayah Wadumapo dan Lasehao yang kemudian disiapkan secara sakral di hadapan calon pemimpin.

Prosesi ini menyimbolkan penyatuan jiwa Sangia Kobenteno dengan seluruh tanah air Kerajaan Muna, sekaligus sumpah setia bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan tanah yang telah dipijak dan dijaga oleh leluhur sejak ratusan tahun silam. Prosesi ini pun dilaksanakan sama persis seperti yang dijalankan oleh para pendahulunya.

TAHAP 3: PUNCAK PROSESI KABULULINO PAU DI KONTU HARIMAU

Puncak dari seluruh rangkaian prosesi adalah pelaksanaan Kabululino Pau yang dilaksanakan secara resmi pada tanggal 3 Juli 2024 di lokasi bersejarah Kontu Harimau atau Batu Harimau. Inilah tempat yang sama, lokasi yang sama, di mana setiap raja Kerajaan Muna sejak zaman dahulu selalu dikukuhkan. Momen ini menjadi saksi penyerahan amanah, penyematan gelar Sangia Kobenteno, serta doa bersama para pemangku adat demi keberkahan, kekuatan, dan kebijaksanaan bagi kepemimpinan yang baru.

Baca Juga:  Kapolres Konut Pimpin Langsung Penertiban Antrian Kendaraan dan Layanan Kesehatan di Lokasi Banjir

  Keputusan ini diambil sepenuhnya atas kewenangan mutlak Dewan Sara Wuna, yang terdiri dari Bhonto Bhalano beserta Empat Ghoera: Mieno Tongkuno, Mieno Lawa, Mieno Kabawo, dan Mieno Katobu. Proses ini merupakan kelanjutan amanah yang telah diberikan sebelumnya, dan keabsahannya berdiri teguh di atas hukum adat yang tak berubah di tanah Muna.

Tegas Drs. Nazaruddin Saga, M.Si.“Kami melaksanakan ketiga prosesi ini sesuai urutan dan syarat yang tak boleh berubah, sama persis seperti yang dilakukan leluhur kita sejak zaman dahulu. Ini adalah cara adat kita mengukuhkan pemimpin, bukan sekadar tulisan di atas kertas. Semoga Yang Mulia Sangia Kobenteno dapat memimpin dengan bijaksana, menjaga persaudaraan erat dengan Buton dan Tiworo, serta membawa kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Muna.”

Seluruh rangkaian berjalan dengan tertib, khidmat, dan penuh rasa syukur, serta dihadiri oleh para pemangku adat, tokoh masyarakat, keluarga besar Kerajaan Muna, dan tamu undangan yang hadir menyaksikan kelanjutan sejarah tanah Muna.( Redaksi )

.

Komentar