HUT RI KE 81, YM Laode Riago,SH Tampil Memukau Di Istana Negara Bersama Ratusan Tokoh Penting Dari Penjuru Negeri 

News43 views

GLOBAL SULTRA.COM.JAKARTA, – Di detik-detik pengibaran Sang Merah Putih, saat seluruh mata bangsa tertuju pada upacara peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, satu sosok berdiri tegak dan gagah di tribun kehormatan Istana Negara. Di antara ratusan tokoh penting dari seluruh penjuru negeri, Yang Mulia La Ode Riago, SH tampil memukau, membawa wibawa dan jati diri Kerajaan Muna ke pusat kekuasaan negara.
Senin, 17 Agustus 2026 — Istana Negara, Jakarta

Beliau mengenakan Balahadhadha — pakaian kebesaran tertinggi Kerajaan Muna, yang bukan sekadar busana, melainkan simbol kedaulatan, kehormatan, dan warisan leluhur yang dijaga turun-temurun. Jubah tenun emas yang ditenun dengan penuh ketelitian berkilau di bawah sinar matahari pagi, memancarkan kemewahan yang lahir dari keterampilan tangan para pengrajin tenun Masalili, Kabupaten Muna — karya budaya kita yang luar biasa.


Tenun Masalili–Kamoru ini ditenun dari bahan-bahan alami pilihan : kapas, kulit kayu, dan serat nanas, yang diolah dengan tangan penuh kesabaran hingga menjadi benang halus. Dihasilkan melalui pewarnaan dari bahan alam, perpaduan warnanya begitu harmonis – hangat, alami, dan memancarkan kelembutan sekaligus kekuatan bumi Muna. Inilah karya tangan leluhur yang lahir langsung dari alam, menyatu dengan alam, dan kini tampil gagah di tempat tertinggi bangsa.

Baca Juga:  Ditlantas Polda Sultra Gelar Patroli Malam Minggu, Antisipasi Balap Liar

Di bahu beliau terpasang selempang merah Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN), yang melingkar gagah dan menjadi simbol persatuan seluruh kerajaan dan adat se-Nusantara. Di kepala, destar emas bertatahkan permata berkilau, melengkapi penampilan yang penuh wibawa dan keagungan.

Balahadhadha bukanlah pakaian yang sembarangan dikenakan. Ia adalah busana resmi yang hanya dipakai oleh Raja, pejabat adat tertinggi, atau utusan kerajaan pada momen-momen paling sakral dan kenegaraan. Hari ini, di halaman Istana Negara, pakaian leluhur itu kembali tegak dan berkibar — bukan sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai bukti hidup bahwa budaya Muna tetap utuh, tetap berakar, dan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kebesaran Indonesia.

“Indonesia kuat bukan karena kesamaan seragam, melainkan karena keberagamannya. Inilah penghormatan kami kepada negara: berdiri tegak dengan jati diri leluhur, karena di sanalah kekuatan kami berada.”
— Yang Mulia La Ode Riago

Tahun ini, dari Sabang sampai Merauke, halaman Istana Negara berubah menjadi samudra warna-warni budaya Nusantara. Setiap tamu undangan mengenakan pakaian adat daerahnya masing-masing, menjadi bukti nyata semangat Bhinneka Tunggal Ika. Namun kehadiran YM La Ode Riago,S.H dengan Balahadhadha dan selempang merah MAKN menyita perhatian banyak pihak. Banyak yang mengabadikan momen ini, menyadari bahwa apa yang mereka saksikan bukan sekadar penampilan indah — melainkan pernyataan sejarah.

Baca Juga:  Ini Klarifikasi Dir Resnarkoba Polda Sultra Terkait Penembakan Salah Sasaran

Dahulu, nama Muna belum banyak dikenal di peta nasional. Budayanya, adat istiadatnya, dan kedaulatannya belum banyak diketahui saudara-saudara kita di daerah lain. Namun hari ini, di siaran langsung televisi nasional, jutaan mata memandang dan mengenal Muna melalui Balahadhadha yang dikenakan dengan penuh kebanggaan — jubah yang ditenun dari kapas, kulit kayu, dan serat nanas Masalili–Kamoru, bukti bahwa kesederhanaan alam bisa lahirkan keagungan budaya. Selempang merah MAKN yang melingkar di bahu beliau juga menjadi pesan mendalam: bahwa kerajaan-kerajaan dan adat istiadat Nusantara bukan hal yang berlalu, melainkan kekuatan yang menyatukan kita semua di bawah bendera Republik Indonesia.

Kehadiran beliau di Istana Negara bukan sekadar undangan yang dipenuhi — melainkan pengakuan. Pengakuan negara terhadap keberagaman budaya, terhadap peran kerajaan-kerajaan Nusantara dalam menjaga persatuan, dan terhadap jati diri setiap suku bangsa yang ada di bumi pertiwi. Ini juga bukti bahwa warisan leluhur tidak bertentangan dengan kemerdekaan — justru memperkaya dan memperkuatnya.

Baca Juga:  DIRGAHAYU PROVINSI SULAWESI TENGGARA KE 62

Bukan sekadar tampil indah — ini adalah janji kepada pendahulu. Bahwa apa yang dijaga dan diperjuangkan mereka dulu, kini tetap dipegang teguh. Bahwa di tengah arus zaman yang terus berubah, kita tidak kehilangan akar. Bahwa kita bisa menjadi warga negara Indonesia yang baik sekaligus tetap menjadi orang Muna yang bangga.

Upacara peringatan kemerdekaan ke-81 ini pun menjadi lebih bermakna. Bukan hanya perayaan bebasnya bangsa dari penjajahan — tetapi juga perayaan kebebasan untuk menjadi diri sendiri, untuk berbangga dengan asal-usul, dan untuk membawa warisan leluhur berdiri tegak di tempat tertinggi.

Selamat dan bangga, tanah kelahiran kami Muna. Namamu kini berkibar di tempat tertinggi, membawa pesan luhur yang takkan pernah pudar: berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Semoga langkah ini menjadi awal bagi semakin dikenalnya budaya Muna dan keindahan tenun Masalili–Kamoru di kancah nasional, dan semoga semangat leluhur senantiasa menyertai langkah kita semua menuju Indonesia yang semakin kuat karena keberagamannya.( Redaksi )

.

Komentar